Inggris Harapkan Wakatobi Jadi Pusat Unggulan Maritim

Diposkan oleh Hariru | Friday, July 31, 2009 | | 0 Komentar »


Kabupaten Wakatobi terletak di kepulauan jazirah Tenggara Pulau Sulawesi memiliki luas daratan 823km persegi dan lautan diperkirakan sekitar 18.377,31 kilometer (km) persegi dengan kekayaan anekaragam hayati laut itu menarik ilmuwan dan penanam modal Inggris.
Bahkan, Bupati Wakatobi diundang ke gedung Parlemen Inggris Wesminster yang berada satu komplek dengan jam gadang di London, Big Ben, yang menjadi obyek wisata dan pinggir sungai Thames guna membahas perkembangan Wakatobi.

Mengungkap Keajaiban di Kabupaten Wakatob

Diposkan oleh Hariru | Thursday, July 30, 2009 | | 0 Komentar »


Terdapat Pulau yang Dihuni Penyu

GUGUSAN Kepulauan Wakatobi (Wanci, Kaledupa, Tomia, Binongko) benar-benar menyimpan banyak "keajaiban", baik di darat maupun di lautannya. Selain keindahan biota laut, atraksi budaya, juga terdapat pulau yang huni satwa melata penyu.

La Witiri, Baubau

ANANO dan Runduma adalah salah satu pulau digugusan kepulauan Waktobi, yang telaknya berhadapan langsung dengan laut Buru dan Banda. "Ajaibnya" pulau Anano dan Rumbuma, karena di pulau paling ujung timur Kabupaten Wakatobi ini terdapatnya satwa melata penyu.

Membangun Wakatobi dari Laut

Diposkan oleh Hariru | Thursday, July 30, 2009 | | 0 Komentar »


Oleh ESTER LINCE NAPITUPULU
”Surga bawah laut yang sebenarnya ada di Wakatobi. Dari tiga pusat penyelaman kelas dunia, Wakatobi memiliki jenis karang laut terbanyak,” kata Hugua, Bupati Wakatobi, dalam berbagai kesempatan saat memaparkan keunggulan salah satu kabupaten di Sulawesi Tenggara ini.
Keanekaragaman hayati bawah laut di Wakatobi diklaim jauh lebih tinggi dibandingkan Karibia dan Mesir yang jadi pusat penyelaman dunia. Sekitar 90 persen dari 850 jenis karang dunia, yakni 750 jenis, ada di Wakatobi.

Konggres CTI di Wakatobi dihadiri tiga negara

Diposkan oleh Hariru | Monday, July 27, 2009 | | 1 Komentar »


WANGIWANGI- Meskipun pelaksanaan Congres Coral Triangle Inisiative (CTI) masih sekitar empat bulan lebih, namun upayah Pemkab Wakatobi terus melakukan pembenahan infrasruktur yang kurang indah dipandang mata. Karena sesuai rencana acara tersebut akan dihadiri tiga negara, yakni Eropa, Amerika, dan kawasan Asia.

”Pertemuan CTI ini akan dihadiri tiga negara peninjau, yaitu Eropa, Amerika, dan kawasan Asia,” ungkap Ketua Bappeda Kabupaten Wakatobi, Ir Manan Msc mewakili bupati, usai acara fasilitasi dan pemanfaatan kelembagaan kawasan konservasi Kabupaten Wakatobi, yang di lakukana Dinas Perikanan Dan Kelautan Provinsi Sulawesi Tenggara di Hotel Wakatobi Kecamatan Wangiwangi, Senin (13/7).

Kegiatan tersebut, tindak lanjut petemuan CTI Pertama di Philipina (Manila), Bupati Wakatobi Ir Hugua ditunjuk sebagai Ketua Delegasi Indonesia yang diselenggarakan (27/6) hingga (3/7) lalu. Salah satu hasil dari pertemuan tersebut Wakatobi ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggara.

Selain itu, ada enam Delegasi Negara yang bakal hadir, yaitu Philipina, Malaysia, Singapura, Timor Leste, Papua New Guine, dan Kepulauan Salomon. Manan menambahkan, terpilihnya Wakatobi sebagai tempat penyelenggaraan CTI Kedua, karena Kepulauan Wakatobi memiliki potensi kekayaan dan keindahan alam bawah laut. ”Sebagai catatan, pertemuan mendatang, intinya membahas bagaimana Indonesia sebagai tuan rumah, bisa melindungi kawasan konservasi biota laut yang berkelanjutan diseluruh wilayah pesisir perairan Indonesia,” terangnya. (p9/mus)

http://radarbuton.com

Wakatobi Siapkan Tambat Labuh Kapal Pesiar

Diposkan oleh Hariru | Saturday, July 25, 2009 | | 0 Komentar »

wakatobi, taman laut wakatobi
WAKATOBI-Keindahan laut dengan gugusan karang terindah di dunia, menjadikan Kabupaten Wakatobi, sebagai daerah persinggahan 150 kapal layar ( Yacht ). Konsekuensi logis dari pengakuan pemerintah pusat atas keindahan dan keunikan bawah laut (undewater) dan budaya Wakatobi, membuat daerah yang dipimpin, Hugua, semakin dikenal di manca negara.


Rute Wakatobi Sail Indonesia Ditetapkan

Diposkan oleh Hariru | Tuesday, July 21, 2009 | | 0 Komentar »

WANGIWANGI-Penetapan Kabupaten Wakatobi sebagai daerah persinggahan 150 kapal layar ( Yacht ) adalah konsekuensi logis dari pengakuan pemerintah pusat atas keindahan dan keunikan bawah laut (undewater) dan budaya Waktobi, di kenal dengan nama kepulauan tukang besi.

Keunikan dan daya tarik budaya serta alam tersebut, acap kali diperkenalkan oleh Bupati Hugua, pada setiap kunjungannya di berbagai daerah, bahkan di luar negeri. Hal itu diungkapkan Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Drs H Hasirun Ady Msi, saat ditemui koran ini di ruang kerjanya, kemarin.

Wakatobi, Pesona Alam yang Menajubkan

Diposkan oleh Hariru | Friday, July 17, 2009 | | 1 Komentar »

Sebagian besar dari kita tentu masih asing bila mendengar nama Wakatobi. Mungkin ada yang bertanya-tanya di manakah itu? Apakah itu di Jepang? Apakah itu berkaitan dengan dorayaki, Nobita, dan Doraemon? Sekilas dilihat dari namanya wajar jika kita berfikiran seperti itu, tetapi ternyata bukan. Wakatobi adalah nama salah satu kabupaten di Indonesia, tepatnya di Sulawesi tenggara. Satu lagi kekayaan alam Indonesia yang dianugrahkan Allah SWT. Membuktikan dan semakin menguatkan bahwa negara Indonesia adalah memang negara kaya.

Rute Rombongan Sail 2009

Diposkan oleh Hariru | Thursday, July 16, 2009 | | 0 Komentar »





Eastern Passage Rally

Option 1 : Darwin – Saumlaki – Banda – Ambon – Ternate – Bitung – Toli Toli – Mamuju – Pare Pare – Makassar – Bali – Banjarmasin – Kumai – Belitung
Option 2 : Darwin – Ambon – Ternate – Bitung - Toli Toli – Mamuju – Pare Pare – Makassar – Bali – Banjarmasin – Kumai – Belitung

Pengendara Sepeda asal Jerman Tiba di Wakatobi

Diposkan oleh Hariru | Thursday, July 16, 2009 | | 0 Komentar »

KALEDUPA- Setelah berjalan mengendarai sepeda selama tujuh bulan, Felix (28) guru olahraga salah satu sekolah di Jerman, Minggu (28/6) tiba di Pulau Hoga Kecamatan Kaledupa Kabupaten Wakatobi. Sebelum mengelilingi Kepulaun Tukang Besi lebih lanjut, pengendara sepeda Jerman, sempat singgah di Rujab Bupati Wakatobi.

Wakatobi Telah Siap Menerima Rombongan Sail 2009

Diposkan oleh Hariru | Thursday, July 16, 2009 | | 0 Komentar »


WANGIWANGI- Jelang Wakatobi Sail Indonesia tinggal 42 hari lagi, namun Pemkab Wakatobi saat ini, sudah siap menerima event Internasional tersebut. Sebagaimana dikatakan Ketua Panitia Penyelenggara Wakatobi Sail Indonesia, Ediarto Rusmin BAE.

Dikatakannya, sejak rapat awal pembentukan panitia penyambutan event Wakatobi Sail Indonesia, pihaknya telah membagi personilnya sesuai jobnya masing-masing. Sehingga panitia telah bekerja dengan baik untuk merampungkan semua persiapan tersebut. “Sampai saat ini, semua seksi sudah siap bekerja sesuai pos dan seksinya masing-masing. Bahkan peserta sail akan diterimah dengan ramah,” papar Wakil Bupati Wakatobi, Ediarto diruang kerja, kemarin.

Dia menambahkan, hari Rabu (14/7) lalu, pihaknya telah mengelar rapat dengan sejumlah personil TNI Polri, untuk membahas pengamanan laut disekitar lokasi Mouring Buoy, tempat menambatnya kapal layar Internasional, agar keberadaan kapal-kapal mewah tersebut tetap steril dari ganguan keamanan. “Secara normatif panitia pemyambutan kapal-kapal ini, serentak petugas Satuan Pengawalan akan menuntun kapal itu ke kawasan mouring buoy. Disana sudah disiapkan pelapung atau Mouring Buoy sebanyak 120 buah. Sehingga ketika kapal itu tiba diareal tambatannya, setiap kapal menambatnya dengan teratur, tertib, dan mengikatkan talinya di pelampung (mouring buoy),” kata Ediarto.

Orang nomor dua di Wakatobi itu, mengatakan Wakatobi telah memiliki pengalaman menyambut tamu, yang membedakan pelaksanaannya di darat, sekarang di wilayah perairan. Sehingga untuk menyambut kegiatan tersebut panitia tidak cangu lagi, karena sudah berpengalaman di event Internasional. Disisi lain masyarakat Wakatobi, sejak dahulu masih memegang kebiasaannya, yakni tamu sangat dihargai. Apalagi event ini akan dilaksanakan bulan Ramadhan, kita tetap melayani para sailler.

Ketua panitia Wakatobi Sail Indonesia Bunaken, menghimbau masyarakat Wangiwangi agar bisa menerimah kalangan sailler ini apa adanya, dan terimahlah mereka dengan ramah. Karena para Sailer ini, mayoritas beragama lain. “Tambatan kapal-kapal mewah itu, bisa dijaga sebaik-baiknya,” ujarnya. (gin/mus)

http://radarbuton.com


Wakatobi, bukan lagi kabupaten kecil yang terpinggirkan. Kini, Kabupaten Wakatobi sudah menjelma menjadi daerah pariwisata yang terkenal sebagai surga nyata bawah laut di pusat segitiga karang dunia.


Langkah Bupati Wakatobi, Ir Hugua, untuk terus mengangkat Wakatobi sebagai daerah pariwisata yang mendunia, terus dilakukan. Hugua punya mimpi untuk menjadikan Taman Laut Wakatobi sebagai daerah pariwisata yang dapat mendatangkan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Pokoknya, Wakatobi harus menjadi daerah tujuan wisata utama.

Nugie : Luar Biasa Wakatobi !

Diposkan oleh Hariru | Monday, July 13, 2009 | | 0 Komentar »

Sejumlah kru dari sutradara Garin Nugroho tengah menggarap sebuah film dokumenter wisata laut yang mengisahkan kehidupan anak-anak Bajo dan penyu di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra).


Salah seorang pemain film tersebut, Agustinus Gusti Nugroho, di Kendari, Rabu (29/4), mengaku kagum dengan keindahan terumbu karang Wakatobi. "Warga Wakatobi patut bersyukur kepada Tuhan yang menganugerahkan terumbu karang beserta aneka biota laut di dalamnya sehingga `surga` nyata di bawah laut menjadi milik mereka," ujar pemuda yang akrab disapa Nugie ini.

Hugua Gencar Promosi Wakatobi

Diposkan oleh Hariru | Friday, July 10, 2009 | | 0 Komentar »

WAKATOBI- Sejak Nopember 2006 Wakatobi ditetapkan sebagai salah satu pengembangan dan tujuan Wisata Bahari Nasional (WBN) Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia. Penetapan tersebut menyusul gencarnya promosi dan informasi yang dilakukan Bupati Ir Hugua dalam berbagai forum. Tiga bulan setelah dilantik sebagai Bupati Kabupaten Wakatobi, langsung mengikuti berbagai seminar dan promosi, baik dalam negeri maupun diluar negeri. Buktinya dalam waktu singkat, Wakatobi dikenal masyarakat dunia.

Wakatobi Pusat Penelitian Bawah Laut

Diposkan oleh Hariru | Tuesday, July 07, 2009 | | 0 Komentar »


Wakatobi - Kekayaan keragaman hayati atau biodiversity terumbu karang di kawasan Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara, bukan cuma menarik untuk kepentingan pariwisata, melainkan juga ilmu pengetahuan dan penelitian. Bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi ternama di Eropa, Pemerintah Kabupaten Wakatobi akan menjadikan Taman Nasional Wakatobi sebagai pusat keunggulan dunia untuk penelitian bawah laut.
”Proses pembangunan pusat keunggulan penelitian bawah laut dunia itu sedang dalam persiapan,” kata Hugua, Bupati Wakatobi, di Wangi-wangi, Wakatobi, Kamis (4/12).

Pemanasan Global Tidak Mempengaruhi Terumbu Karang Wakatobi

Diposkan oleh Hariru | Wednesday, July 01, 2009 | | 1 Komentar »

Balai Taman Nasional Wakatobi sudah melakukan penelitian mengenai pemanasan global terhadap terumbu karang yang terdiri dari Ekropora, Mantipora, Leptoseris, Pavona, coeleselis, stylocoenielle, euphyllia, lubasttrea, dan turbinaria di Wakatobi. Hasilnya tidak berpengaruh terhadap pemanasan global sebab di kawasan Wakatobi banyak terdapat upwelling atau perputaran arus laut di sekitar laut Wanci, Kaledupa, Tomea, dan Binongko sehingga terumbu karang akan tetap hidup.

Jutaan Fosil Karang Berjejer di Puncak Waru'u

Diposkan oleh Hariru | Wednesday, July 01, 2009 | | 0 Komentar »

Mendengar nama puncak, pasti pikiran Anda akan melayang ke puncak di Bogor. Namun puncak yang satu ini adalah puncak di ketinggian sekitar 180 meter dari permukaan laut, di perantaraan Kelurahan Tongano Barat dan Desa Kahiyanga, Kecamatan Tomia Timur, Kabupaten Wakatobi. Banyak hal yang menarik di sana, di antaranya indahnya panorama alam laksana surga di depan mata, selain itu, pengunjung yang baru datang akan terkesima menyaksikan jutaan fosil karang laut dan kerang (kima raksasa) yang tersebar di ketinggian puncak Waruu.

Tempatnya di atas puncak bukit, ratusan hektar luasnya. Hanya terdapat sejumlah pohon yang dapat dihitung jumlahnya, sisanya berupa padang rumput (sabana), didominasi rumput setinggi mata kaki berdaun halus, kering dan mudah terbakar. Seketika itu, Anda akan mengira sedang berada di lautan rumput, dan laksana ombak sedang berkejaran ketika rumput diterpa angin gunung yang sejuk kendati di bawah terik matahari.

Menurut cerita lisan masyarakat setempat, puncak yang dulu bernama Wa Ruu merupakan daerah pertemuan kedalaman laut dan daerah karang. Di situlah konon deru ombak menghempas membentuk busa panjang dan menghasilkan bunyi yang menurut pendengaran masyarakat ketika itu, kurang lebih bunyinya “ruuu” atau waruu.
Jutaan bunga karang itu kini sudah mati akibat panas matahari selama berjuta tahun lamanya. Selain itu sudah tidak tumbuh di habitatnya, karena air laut surut dan enggan kembali menggenangi wilayah yang kini dijadikan tempat berpiknik itu. Alangkah terkesimanya aku ketika sedang memperhatikan bentuk bunga karang dari satu bunga karang ke bunga karang lainnya. Karena bunga karang seperti itu tidak asing dan hampir setiap hari aku saksikan di laut Tomia, maka jelas aku tahu kalau itu fosil bunga karang.

Fosil bunga karang itu tidak memiliki daya tarik sedikit pun bagi masyarakat setempat, karena bunga karang hidup dan jauh lebih indah dari itu sudah menjadi sarapan pagi dan sore bagi masyarakat Tomia. Namun jika orang baru yang kesana, pasti akan terkesima. Rupanya tempat itu bisa menjadi perpustakaan masa silam yang dapat menggambarkan keadaan bumi secara geografis dan mungkin saja tentang teori pasang surut laut, atau teori pertumbuhan batu karang, atau teori munculnya karag menjadi sebuah pulau.

Untuk mencapai tempat itu, bisa menggunakan angkot atau sepeda motor dengan menaiki tanjakan sekitar 5 kilometer dari Usuku. Dari ketinggian (puncak) pemandangan ibarat haparan padang pasir, hanya fatamorgana yang menghalangi, kosong melompong ke seluruh penjuru mata angin.

Terlihat begitu dekat Pulau Lentea, Tolandono, Sava, dan Binongko. Satu hal yang membuat takjub ciptaan Tuhan di bagian laut ini, hamparan karang atol bersambung hingga ribuan mil jauhnya dan tak putus, terlihat jelas memutih dengan mata telanjang. Karang panjang Kaledupa itu terlihat dangkal dari ketinggian, sangat dangkal, mungkin hanya sebatas mata kaki. Padahal yang sebenarnya mungkin sampai dada orang dewasa.

Lalu-lalang kapal di selat Tomia hampir setiap 20 menit. Bahkan di laut Usuku sedang berlabuh kapal khusus pengantar turis sedang menyelam saksikan karang hidup di tentangan Malabhea. Ketika itu laut sangat jernih karena cuaca sangat teduh dan cerah. Sebentar lagi matahari akan terbenam di balik karang panjang itu, berkas sinarnya menjadi lembut, selembut sinar bulan purnama.

Puncak yang bagi masyarakat Tomia adalah tempat piknik, memiliki daya tarik tersendiri, suguhkan nuansa alam di atas perkampungan padat Usuku. Ratusan kapal sedang berlabuh tampak seakan sedang karam. Lalu-lalang kendaraan terlihat seperti semut beriring. Di malam hari, lampu malam terlihat padat seperti ribuan kunang-kunang sedang terbang.

Konon puncak sangat cocok untuk dijadikan arena lomba layang-layang. Ide ini sepertinya bisa diterima, karena di samping pepohonannya sangat sedikit, angin yang berhembus cukup untuk menerbangkan layang-layang.

Sumber : radarbuton.com