Wakatobi, Pesona Alam yang Menajubkan

Diposkan oleh Hariru | Friday, July 17, 2009 | | 1 Komentar »

Sebagian besar dari kita tentu masih asing bila mendengar nama Wakatobi. Mungkin ada yang bertanya-tanya di manakah itu? Apakah itu di Jepang? Apakah itu berkaitan dengan dorayaki, Nobita, dan Doraemon? Sekilas dilihat dari namanya wajar jika kita berfikiran seperti itu, tetapi ternyata bukan. Wakatobi adalah nama salah satu kabupaten di Indonesia, tepatnya di Sulawesi tenggara. Satu lagi kekayaan alam Indonesia yang dianugrahkan Allah SWT. Membuktikan dan semakin menguatkan bahwa negara Indonesia adalah memang negara kaya.

Sesungguhnya Wakatobi sudah sangat terkenal di mancanegara, terutama setelah Ekspedisi Walacea dari Inggris pada tahun 1995 menyebutkan bahwa kawasan di Sulawesi Tenggara ini sangat kaya akan spesies koral. Di sana, terdapat 750 dari total 850 spesies koral yang ada di dunia. Sampai saat ini pun di pulau Hoga, salah satu pulau kecil di Wakatobi, lembaga ekspedisi Wallacea masih menempatkan sebuah lembaga riset yang selalu didatangi peminat dari berbagai negara. Untuk lingkup Indonesia, Wakatobi adalah nama kabupaten yang terdiri dari empat pulau utama, yaitu Wangiwangi, Kalidupa, Tomia, dan Binongko. Jadi, Wakatobi adalah singkatan nama dari keempat pulau utamanya. Sebelum 18 Desember 2003, kepulauan ini disebut Kepulauan Tukang Besi dan masih merupakan bagian dari Kabupaten Buton.
Pariwisata bahari adalah aktivitas wisata yang telah lama dikembangkan di Kepulauan Wakatobi yang didukung dengan keberadaan Taman Laut Nasional Kepulauan Wakatobi. Keunggulan aset wisata ini, tak lain karena hamparan karang yang sangat luas di sepanjang perairan dengan topografi bawah laut yang kompleks seperti bentuk slope, flat, drop-off, atoll, dan underwater cave. Secara umum, perairan lautnya mempunyai konfigurasi dari mulai datar sampai melandai ke arah laut, dan beberapa daerah perairan terdapat yang bertubir curam, dengan biota laut yang beraneka ragam. Kedalaman airnya bervariasi bagian terdalam mencapai 1.044 meter dengan dasar perairan berpasir dan berkarang. Wilayah tersebut memiliki potensi yang cukup penting terutama keberadaan terumbu karang dan berbagai jenis biota laut yang beraneka ragam dengan nilai estetika dan konservasi yang tinggi. Secara spesifik, taman laut kepulauan Wakatobi memiliki ±25 buah gugusan terumbu karang dengan 750 spesies yang dikelilingi total 600 km2, serta objek wisata pantai yang sangat potensial untuk dikelola, tersebar diseluruh wilayah Wakatobi. Berdasarkan po-tensi tersebut, menjadikan ka-wasan ini sangat comfortable untuk aktivitas wisata selam seperti surfing dan snorkeling, serta wisata memancing. Sehingga sa-lah seorang jurnalis selam asing bernama Jacques Costeau menggelari Wakatobi sebagai tempat penyeleman terindah di dunia (Wakatobi is the finest diving site in the world).
Taman nasional ini memiliki 25 buah gugusan terumbu karang dengan keliling pantai dari pulau-pulau karang sepanjang 600 km. Lebih dari 112 jenis karang dari 13 famili diantaranya Acropora formosa, A. Hyacinthus, Psammocora profundasafla, Pavona cactus, Leptoseris yabei, Fungia molucensis, Lobophyllia robusta, Merulina ampliata, Platygyra versifora, Euphyllia glabrescens, Tubastraea frondes, Stylophora pistillata, Sarcophyton throchelliophorum, dan Sinularia spp. Kekayaan jenis ikan yang dimiliki taman nasional ini sebanyak 93 jenis ikan konsumsi perdagangan dan ikan hias diantaranya argus bintik (Cephalopholus argus), takhasang (Naso unicornis), pogo-pogo (Balistoides viridescens), napoleon (Cheilinus undulatus), ikan merah (Lutjanus biguttatus), baronang (Siganus guttatus), Amphiprion melanopus, Chaetodon specullum, Chelmon rostratus, Heniochus acuminatus, Lutjanus monostigma, Caesio caerularea, dan lain-lain. Selain terdapat beberapa jenis burung laut seperti angsa-batu coklat (Sula leucogaster plotus), cerek melayu (Charadrius peronii), raja udang erasia (Alcedo atthis); juga terdapat tiga jenis penyu yang sering mendarat di pulau-pulau yang ada di taman nasional yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu tempayan (Caretta caretta), dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea).
Masyarakat asli yang tinggal di sekitar taman nasional yaitu suku laut atau yang disebut suku Bajau. Menurut catatan Cina kuno dan para penjelajah Eropa, menyebutkan bahwa manusia berperahu adalah manusia yang mampu menjelajahi Kepulauan Merqui, Johor, Singapura, Sulawesi, dan Kepulauan Sulu. Dari keseluruhan manusia berperahu di Asia Tenggara yang masih mempunyai kebudayaan berperahu tradisional adalah suku Bajau. Melihat kehidupan mereka sehari-hari merupakan hal yang menarik dan unik, terutama penyelaman ke dasar laut tanpa peralatan untuk menombak ikan. Adanya berbagai warisan sejarah kepurbakalaan serta eksistensi sosial dan budaya yang unik dan khas di tengah masyarakat, merupakan kekayaan budaya yang memiliki nilai daya tarik tersendiri, sebagai penunjang bagi pengembangan sektor pariwisata. Peninggalan budaya masa lalu memberikan karakteristik dan kekayaan nilai-nilai budaya yang hingga saat ini dapat dilihat pada pola/tradisi kehidupan masyarakat Wakatobi yang lebih dikenal sebagai masyarakat kepulauan dan pesisir. Sehingga budaya masyarakat yang dimiliki lebih bersifat budaya pesisir. Eksistensi budaya inilah yang memberikan fenomena unik bagi pengembangan pariwisata yang berbasis pada nilai-nilai budaya.
Selain panorama baharinya, pesona daratnya juga tidak kalah indahnya. Bisa dikatakan Wakatobi indah di atas dan di bawah sekaligus. Alam di sana masih bersih dan itu bisa dilihat dari beningnya sungai-sungai di sana. Perahu seakan-akan melayang karena air di bawahnya seakan tidak terlihat. Kesadaran akan kebersihan ini sangat disadari masyarakat setempat. Sampah plastik umumnya dikumpulkan di suatu tempat untuk dijual kepada penadah. Selain membuat pemasukan bagi penduduk, kesadaran ini dapat menjaga kelestarian alam di sana. Pesona darat Pulau Wangiwangi adalah mata air di celah-celah bukit kapur, juga beberapa benteng dan masjid tua sisa kerajaan buton. Adapun Pulau Kalidupa dan Tomia kaya pemandangan pantai serta tarian tradisional. Pulau terujung, yaitu Binongko, yang dulu dikenal sebagai pulau tukang besi, memang dipenuhi para pandai besi. Mereka mengerjakan pembuatan aneka alat rumah tangga yang dijual sampai Makassar. Saat mereka menempa besi adalah atraksi menarik. Di Pulau Binongko pula penenun tradisional masih memberi pesona tersendiri. Tenun yang mereka buat masih alami handmade serta mempunyai nilai seni dan mutu yang tinggi.
Pendek kata, kita seharusnya selalu bersyukur kepada Allah SWT yang telah menganugerahkan kekayaan Alam melimpah ruah, zamrud khatulistiwa dari sabang sampai merauke yang belum tentu dimiliki oleh negara lain di dunia. Namun, yang jadi tanda tanya besar dan perenungan kita bersama adalah “mengapa di negara yang kaya ini, penduduknya miskin?
oleh : Oleh: Yozzevi Whina A.
Penulis adalah Sekbid LP3ME Fakultas Ekonomi UM
http://komunikasi.um.ac.id/?p=600



Artikel Terkait:

1 Komentar

  1. Yuni Anggreani // May 28, 2017 at 2:30 AM  

    Keberuntungan diawali dari kerja keras dan pantang semangat
    Hadir disini untuk kalian yang membutuhkan kami
    Kunjungi www,pokerayam,co
    info keberuntungan lebih lanjut bbm : D8E5205A

Post a Comment