Dari Dekat Kedatangan Sail Indonesia di Wakatobi

Diposkan oleh Hariru | Monday, August 10, 2009 | | 1 Komentar »

Kepulauan Tukang Besi yang terkenal dengan wisata alam bahari keindahan pantai dan terumbu karangnya, mengundang perhatian semua kalangan untuk dapat menikmatinya, tak terkecuali para peserta Wakatobi Sail Indonesia (WSI), turis mancanegara, pejabat dan birokrasi maupun pejabat lokal Wakatobi sendiri.

Dalam sepekan terakhir, para panitia Wakatobi Sail Indonesia sejak tanggal 2 Agustus pekan lalu, sibuk mengurus dokumen kapal-kapal Sailer di Wakatobi. Pulau Hoga yang terkenal bukan hanya bagi masyarakat lokal maupun nasional tetapi juga sampai ke Mancanegara.
Bagaimana perjalanannya? Berikut kisahnya…!

Gino SM

Memasuki musim timur yang terkenal dengan ”ganasnya” ombak, tak mengurungkan niat para Sailer, turis local, nasional maupun mancanegara untuk malancong. Pulau Wakatobi, Hoga, Onemobaa yang berada di sebelah timur dari Pulau Buton, menjadi target objek wisata. Secara geografis, Wakatobi langsung berhadapan dengan laut Banda yang terkenal dengan ombaknya yang ”ganas” bisa mencapai lima meter, apalagi di musim timur seperti sekarang.

Namun derasnya ombak di Laut Banda, bukan menjadi rintangan bagi peserta Sail Indonesia untuk singgah si Wakatobi. Buktinya pada Senin (3/8) lalu, sudah beberapa kapal asing tiba di Wakatobi, antara lain Kapal Yacht Fast Forward yang di Nakhodai Ken Pollard asal Virgin Island, Klein Bar Nakhoda Werner Henning asal Selandia Baru, Murungaru Nakhoda Nigel Leakey asal Negara Kerajaan Inggris, Reflection dari Hayling, dan WMD Nakhoda Kim Olenicoff asal Amerika Serikat, bersama dengan keluarga tiba di Wangi-wangi dalam rangka Wakatobi Sail Indonesia, rekreasi wisata alam bahari selanjutnya menuju Pulau Hoga.

Selain menikmati pelayaran, para Sailer juga menyaksikan keindahan alam bawah laut Wakatobi. “We are very like Wakatobi Island, and all of the people here, very kind to us,” ujar Kim Olenicoff yang didampingi David Fosh, dengan bahasa inggrisnya. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia, artinya kami sangat suka Wakatobi, dan seluruh masyarakatnya sangat ramah pada kami.

Lanjut Kim Ollenicoff, nakhoda WMD sangat memberikan apresiasi tentang perkembangan konservasi coral reef daerah Wakatobi, mulai dari transportasi darat, laut dan udara. Karena saat ini, untuk ke Wakatobi melalui jalur udara hanya ditempuh dengan waktu kurang lebih 45 menit dari Kendari, dibanding sebelumnya, menggunakan transportasi laut menghabiskan waktu sekitar 8 jam.

Begitu pula dengan kondisi pantainya yang indah, airnya sangat jernih, sangat berbeda dengan pantai teluk lain di dunia dimana daerah kepulauan yang dilalui Route Sail Indonesia, sehingga pantas jika banyak terdapat terumbu karang di Wakatobi dari berbagai macam jenisnya.

Setibanya di Pulau Wangiwangi senin pukul 09.15 Wita, para Sailer dijemput Bupati Wakatobi Ir Hugua, dan Wabup Ediarto serta jajaran Muspida. Mereka melakukan pengecekan lokasi yang bakal digunakan untuk snorkeling dan diving. Dan keesokan harinya, para Sailer berwisata mengelilingi Benteng Liya, Bajo Mola, Bandara Matahora, dan selanjutnya ke pantai Hugua.

Di mata para Sailer, pelayanan yang ramah dan sopan diberikan kepada pemerintah dan masyarakat Wakatobi. Selain pelayanan yang ramah, mereka juga mendapatkan kenang-kenangan, berupa syal, dan softener serta dijamu makan malam di Rujab bupati. Tidak sampai disitu, para Sailer juga dihibur dengan tari-tarian tradisional binaan Ibu Filna.

Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pulau Hoga, para Sailer menyempatkan waktunya mengelilingi situs sejarah yakni Benteng Liya Togo. Ketika para Sailer itu, kelelahan mereka beristirahat di bawah pohon beringin yang rindang daunnya, dan sesekali melihat para siswa SD yang sedang berlatih berbaris untuk menyongsong HUT RI 17 Agustus mendatang

Karena kesejukannya, bahkan ada yang sempat melontarkan kalimat ”Tempat ini bisa dijadikan tempat istirahat dan pementasan tarian karena suasanannya begitu nyaman dan asri,” ucap Werner Henning nakhoda Klein Bar mengulang ucapan Ken Pollard.

Selang tiga hari, tiga buah kapal layar masuk ke Wangiwangi, masing-masing, Sailance II, yang dinakhodai Chris Baxter, asal Negara Kepulauan Marshall, Miss Jody Nakhoda Ronald Bruce, dan Tartufo nakhoda Nick de Graaf asal Belanda. Para Sailer yang baru berlabuh itu, disambut Wabup Ediarto Rusmin di dampingi isterinya.

Yang menarik dari penyambutan tersebut, salah seorang diantara para Sailer ada yang merayakan hari ulang tahun ke 72, yakni Mrs Joana istri Capten Ronald Bruce (Miss Jody) asal Amerika Serikat. Perayaan Ultah di gelar Restoran Wisata Wangiwangi. Perayaan Ultah ke 72 berlangsung dengan penuh khidmat, dan Mrs Joana sempat meneteskan air matanya, karena haru merayakan hari Ultah di Pulau ”Surga nyata bawah laut di jantung segi tiga karang dunia,”. Acara sederhana itu dihadiri isteri Wabup Ediarto Rusmin, Kadis Budpar Drs hasirun Adi MSi.

Nyonya Ediarto dalam sambutan hari Ultah Mrs Joana mengatakan Welcome to Wakatobi, and than Wakatobi is The Fantastic Island, We Hope You will be happy and enjoy. Usai memberi sambutan, nyonya Ediarto bersalam-salaman, selanjutnya memberi hadiah kepada Mrs Joana, yakni plakat berlogo Pemda Wakatobi.

Usai bersalaman dan memberikan aplaus kepada Ny Ediarto, yang sangat terkesan dipara Sailer ketika mendengar Ny Ediarto merpidato dalam bahasa inggris. Bahkan, sempat membuat salah seorang Sailer terkagum-kagun. “Iya sangat fasih berbahasa inggris,” ujar Crist Baxter.

Selain melakukan foto bersama, Ny Ediarto dan Kadisbudpar Hasirun Adi, juga memberikan Sal, dan Cd. Usai makan malam dengan menu Sari Laut makan khas Restoran Wisata Wangiwangi. Keesokan harinya Minggu (9/8) dua kapal Miss Jody, dan Saildance II bergerak kepulau Hoga, tepat pukul 07.00 Wita, dua kapal melakukan pelayaran wisata alam bahari ke Pulau Hoga dengan menggunakan kapalnya masing-masing.

“Setibanya di Pantai Hoga, kami bersama Sailer yang lain, tanpa komando langsung melompat ke laut saking senangnya melihat pantai Hoga. Kami menyelam beberapa jam disana, bakar-bakar ikan, kepiting, goreng-gorengan, juga melakukan snorclen dan diving, di sekitar laut hoga, ” papar David Fosh. (***)

Sumber : http://radarbuton.com



Artikel Terkait:

1 Komentar

  1. andi // August 11, 2009 at 8:36 PM  

    mantab brow... semangat....!!!!

Post a Comment