Dari Dekat Kedatangan Sail Indonesia di Wakatobi


Kepulauan Tukang Besi yang terkenal dengan wisata alam bahari keindahan pantai dan terumbu karangnya, mengundang perhatian semua kalangan untuk dapat menikmatinya, tak terkecuali para peserta Wakatobi Sail Indonesia (WSI), turis mancanegara, pejabat dan birokrasi maupun pejabat lokal Wakatobi sendiri.

Dalam sepekan terakhir, para panitia WSI sejak tanggal 2 Agustus pekan lalu, sibuk mengurus document kapal-kapal Sailer di Wakatobi. Pulau Hoga yang terkenal bukan hanya bagi masyarakat lokal maupun nasional tetapi juga sampai ke Mancanegara.

Bagaimana perjalanannya? Berikut kisahnya…!

Gino SM

Memasuki musim timur yang terkenal dengan ”ganasnya” ombak, tak mengurungkan niat para Sailer, turis local, nasional maupun mancanegara untuk malancong. Pulau Wakatobi, Hoga, Onemobaa yang berada di sebelah timur dari Pulau Buton, menjadi target objek wisata. Secara geografis, Wakatobi langsung berhadapan dengan laut Banda yang terkenal dengan ombaknya yang ”ganas” bisa mencapai lima meter, apalagi di musim timur seperti sekarang.

Namun derasnya ombak di Laut Banda, bukan menjadi rintangan bagi peserta Sail Indonesia untuk singgah si Wakatobi. Buktinya pada Senin (3/8) lalu, sudah beberapa kapal asing tiba di Wakatobi, antara lain Kapal Yacht Fast Forward yang di Nakhodai Ken Pollard asal Virgin Island, Klein Bar Nakhoda Werner Henning asal Selandia Baru, Murungaru Nakhoda Nigel Leakey asal Negara Kerajaan Inggris, Reflection dari Hayling, dan WMD Nakhoda Kim Olenicoff asal Amerika Serikat, bersama dengan keluarga tiba di Wangi-wangi dalam rangka Wakatobi Sail Indonesia, rekreasi wisata alam bahari selanjutnya menuju Pulau Hoga.

Selain menikmati pelayaran, para Sailer juga menyaksikan keindahan alam bawah laut Wakatobi. “We are very like Wakatobi Island, and all of the people here, very kind to us,” ujar Kim Olenicoff yang didampingi David Fosh, dengan bahasa inggrisnya. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia, artinya kami sangat suka Wakatobi, dan seluruh masyarakatnya sangat ramah pada kami.

Lanjut Kim Ollenicoff, nakhoda WMD sangat memberikan apresiasi tentang perkembangan konservasi coral reef daerah Wakatobi, mulai dari transportasi darat, laut dan udara. Karena saat ini, untuk ke Wakatobi melalui jalur udara hanya ditempuh dengan waktu kurang lebih 45 menit dari Kendari, dibanding sebelumnya, menggunakan transportasi laut menghabiskan waktu sekitar 8 jam.

Begitu pula dengan kondisi pantainya yang indah, airnya sangat jernih, sangat berbeda dengan pantai teluk lain di dunia dimana daerah kepulauan yang dilalui Route Sail Indonesia, sehingga pantas jika banyak terdapat terumbu karang di Wakatobi dari berbagai macam jenisnya.

Setibanya di Pulau Wangiwangi senin pukul 09.15 Wita, para Sailer dijemput Bupati Wakatobi Ir Hugua, dan Wabup Ediarto serta jajaran Muspida. Mereka melakukan pengecekan lokasi yang bakal digunakan untuk snorkeling dan diving. Dan keesokan harinya, para Sailer berwisata mengelilingi Benteng Liya, Bajo Mola, Bandara Matahora, dan selanjutnya ke pantai Hugua.

Di mata para Sailer, pelayanan yang ramah dan sopan diberikan kepada pemerintah dan masyarakat Wakatobi. Selain pelayanan yang ramah, mereka juga mendapatkan kenang-kenangan, berupa syal, dan softener serta dijamu makan malam di Rujab bupati. Tidak sampai disitu, para Sailer juga dihibur dengan tari-tarian tradisional binaan Ibu Filna.

Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pulau Hoga, para Sailer menyempatkan waktunya mengelilingi situs sejarah yakni Benteng Liya Togo. Ketika para Sailer itu, kelelahan mereka beristirahat di bawah pohon beringin yang rindang daunnya, dan sesekali melihat para siswa SD yang sedang berlatih berbaris untuk menyongsong HUT RI 17 Agustus mendatang

Karena kesejukannya, bahkan ada yang sempat melontarkan kalimat ”Tempat ini bisa dijadikan tempat istirahat dan pementasan tarian karena suasanannya begitu nyaman dan asri,” ucap Werner Henning nakhoda Klein Bar mengulang ucapan Ken Pollard.

Selang tiga hari, tiga buah kapal layar masuk ke Wangiwangi, masing-masing, Sailance II, yang dinakhodai Chris Baxter, asal Negara Kepulauan Marshall, Miss Jody Nakhoda Ronald Bruce, dan Tartufo nakhoda Nick de Graaf asal Belanda. Para Sailer yang baru berlabuh itu, disambut Wabup Ediarto Rusmin di dampingi isterinya.

Yang menarik dari penyambutan tersebut, salah seorang diantara para Sailer ada yang merayakan hari ulang tahun ke 72, yakni Mrs Joana istri Capten Ronald Bruce (Miss Jody) asal Amerika Serikat. Perayaan Ultah di gelar Restoran Wisata Wangiwangi. Perayaan Ultah ke 72 berlangsung dengan penuh khidmat, dan Mrs Joana sempat meneteskan air matanya, karena haru merayakan hari Ultah di Pulau ”Surga nyata bawah laut di jantung segi tiga karang dunia,”. Acara sederhana itu dihadiri isteri Wabup Ediarto Rusmin, Kadis Budpar Drs hasirun Adi MSi.

Nyonya Ediarto dalam sambutan hari Ultah Mrs Joana mengatakan Welcome to Wakatobi, and than Wakatobi is The Fantastic Island, We Hope You will be happy and enjoy. Usai memberi sambutan, nyonya Ediarto bersalam-salaman, selanjutnya memberi hadiah kepada Mrs Joana, yakni plakat berlogo Pemda Wakatobi.

Usai bersalaman dan memberikan aplaus kepada Ny Ediarto, yang sangat terkesan dipara Sailer ketika mendengar Ny Ediarto merpidato dalam bahasa inggris. Bahkan, sempat membuat salah seorang Sailer terkagum-kagun. “Iya sangat fasih berbahasa inggris,” ujar Crist Baxter.

Selain melakukan foto bersama, Ny Ediarto dan Kadisbudpar Hasirun Adi, juga memberikan Sal, dan Cd. Usai makan malam dengan menu Sari Laut makan khas Restoran Wisata Wangiwangi. Keesokan harinya Minggu (9/8) dua kapal Miss Jody, dan Saildance II bergerak kepulau Hoga, tepat pukul 07.00 Wita, dua kapal melakukan pelayaran wisata alam bahari ke Pulau Hoga dengan menggunakan kapalnya masing-masing.

“Setibanya di Pantai Hoga, kami bersama Sailer yang lain, tanpa komando langsung melompat ke laut saking senangnya melihat pantai Hoga. Kami menyelam beberapa jam disana, bakar-bakar ikan, kepiting, goreng-gorengan, juga melakukan snorclen dan diving, di sekitar laut hoga, ” papar David Fosh. (***)

Sumber : http://radarbuton.com

Pemkab Watobi Bangun Stasiun Pengaman Penyu


WANGIWANGI- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra), membangun stasiun pemantau di seluruh pulau di wilayah itu untuk menjamin keamanan penyu dari aktivitas pencurian.

Bupati Wakatobi, Hugua di Kendari, Minggu, mengatakan bahwa setiap stasiun dilengkapi kapal ukuran kecil untuk memantau pelaku pencurian.

Selain mengadakan sarana pendukung pengamanan, Pemkab Wakatobi juga memberi perhatian serius terhadap kelestarian lingkungan dengan cara mengangkat pegawai penjaga pantai, kata Hugua, yang juga aktivis lingkungan hidup.

Ia mengimbau, oknum yang masih berniat mencuri penyu di perairan Wakatobi, agar mengurungkan niat sebagai partisipasi mendukung Wakatobi sebagai "Surga nyata di bawah laut."

"Pesona Wakatobi bukan hanya terumbu karang tetapi biota laut yang berlimpah, termasuk penyu sehingga harus dilindungi," katanya.

Ia mengemukakan, habitat terbesar berbagai jenis penyu terdapat di Pulau Runduma, Pulau Anano dan Cuwu-cuwu.

Aktivitas pencurian penyu, menurut dia, sudah dapat ditekan satu tahun terakhir ini, sehingga dipastikan populasi penyu terus bertambah.

"Penyu di Pulau Runduma, Pulau Anano dan Pulau Cuwu-Cuwu sama banyaknya dengan ikan. Dirata-ratakan setiap hari ada 17 ekor induk penyu yang bertelur, masing-masing sebanyak 400 biji," katanya.

Lembaga Swadaya Masyarakat (LMS) ProFauna yang bergerak di bidang pemantauan penyu, menyebutkan bahwa aktivitas perdagangan penyu di Sultra terjadi di empat lokasi, yakni Wanci (Kabupaten Wakatobi), Moramo (Kabupaten Konawe Selatan), Ereke (Kabupaten Buton Utara) dan Tikep (Kabupaten Muna).

ProFauna mencatat bahwa pemasok penyu terbanyak ke Bali adalah Wanci (Kabupaten Wakatobi) mencapai 600 ekor per tahun yang ditangkap di perairan Taman Nasional Wakatobi.

Sedangakan, Ereke (Kabupaten Buton Utara) rata-rata pertahunnya sebanyak 250 ekor, Moramo (Kabupaten Konawe Selatan) 240 ekor dan Tikep (Kabupaten Muna) sebanyak 25 ekor.

Eksploitasi penyu melanggar Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman pidana penjara maksimal lima tahun dan denda Rp100 juta. (int/mus)

http://radarbuton.com

Inggris Harapkan Wakatobi Jadi Pusat Unggulan Maritim


Kabupaten Wakatobi terletak di kepulauan jazirah Tenggara Pulau Sulawesi memiliki luas daratan 823km persegi dan lautan diperkirakan sekitar 18.377,31 kilometer (km) persegi dengan kekayaan anekaragam hayati laut itu menarik ilmuwan dan penanam modal Inggris.

Bahkan, Bupati Wakatobi diundang ke gedung Parlemen Inggris Wesminster yang berada satu komplek dengan jam gadang di London, Big Ben, yang menjadi obyek wisata dan pinggir sungai Thames guna membahas perkembangan Wakatobi.

Bersama Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Laode Ida, belum lama ini Bupati Wakatobi, Hugua, bertemu berbagai kalangan di Kerajaan Inggris yang ingin menjadikan pulau yang berbatasan dengan Laut Banda disebalah Timur dan Laut Flores di selatan sebagai pusat unggulan maritim.

Di Kantor Parlemen Inggris, Hugua dan Laode Ida bersama Ken Clark, mantan menteri keuangan Inggeris dua periode, Dr. George W. Bacceloni dari Yayasan Walllacea, Tony Whiten dari Bank Dunia, Washington serta Piotr Malinowski, Managing Director, Medicago, dan Tim Coles dari Operation Wallacea membicarakan nasib berbagai ragam hayati yang dimiliki Wakatobi.

Siapa yang tidak tertarik dengan Wakatobi yang memiliki potensi ekonomi dengan kekayaan dan keanekarakan hayatinya serta menjadi tempat segitiga terumbuh karang terbesar di dunia. The future of the world, demikian salah satu puji wisatawan Mike King yang berkunjung ke Wakatobi pada September 2008.

Dalam pembicaraan dengan dua lembaga penting di Inggris BioRegional Development Group dan Royal Geographical Sociaty, Ir Hugua mengatakan Ben Gill ,anggota BioRegional Group tertarik membangun kerjasama dengan Kabupaten Wakatobi melalui program One Living Planet.

Source: www.antara.co.id

Mengungkap Keajaiban di Kabupaten Wakatob


Terdapat Pulau yang Dihuni Penyu

GUGUSAN Kepulauan Wakatobi (Wanci, Kaledupa, Tomia, Binongko) benar-benar menyimpan banyak "keajaiban", baik di darat maupun di lautannya. Selain keindahan biota laut, atraksi budaya, juga terdapat pulau yang huni satwa melata penyu.

La Witiri, Baubau

ANANO dan Runduma adalah salah satu pulau digugusan kepulauan Waktobi, yang telaknya berhadapan langsung dengan laut Buru dan Banda. "Ajaibnya" pulau Anano dan Rumbuma, karena di pulau paling ujung timur Kabupaten Wakatobi ini terdapatnya satwa melata penyu.

Menurut Kepala Badan Kebudayaan dan Pariwisata Sultra, Ibrahim Marsela, pulau Anano dan Runduma merupakan pusat penelusuran penyu hijau (Celonia Mydas) bertelur. Petugas Balai Taman Nasional Kepulauan Wakatobi (BTNKW) mencatat, ada sekitar 35 sarang penyu disepanjang garis pantai pulau Anano dan Runduma tersebut.

''Penyu hijau rutin bertelur pada saat malam hari bulan purnama tiba. Biasanya hewan langka ini naik ke bibir pantai bertelur pada pertengahan malam dini hari,'' kata Ibrahim Marsela, yang juga putra kelahiran Wakatobi pada bincang-bincang dengan koran ini di Kendari belum lama ini.

Pantai yang indah dan berpasir putih nan halus membentang panjang, menjadikan rumah bagi binatang yang hidup di dua alam ini. Kawasan ini sangat cocok untuk dijadikan riset bagi mahasiswa perguruan tinggi (PT).

Di sekitar perairan pulau ini, kata Ibrahim Marsela yang juga mantan Wakil Walikota (Wawali) Baubau ini, juga memiliki site penyelaman yang cukup refresentatif dan indah. Khusus di pulau Runduma dihuni oleh sekitar 400 penduduk. Untuk mencapai pulau ini, dapat ditempuh menggunakan kapal kayu carteran selama lima jam perjalanan dari Wangi-Wangi ke pulau Runduma.

Pulau lain yang memiliki "keajaiban", yakni pulau Hoga. Hoga adalah salah satu tempat favorit penyelam profesional dari dalam dan luar negeri. Di pulau ini terdapat Marine Research Station, yang dikelola Operation Wallace, sebuah lembaga penelitian yang berpusat di Inggris. Biasanya musim penyelaman terjadi sepanjang satu bulan pada bulan Maret atau tiga bulan sepanjang Juli-Agustus (musim panjang).

Umumnya mahasiswa Eropa dan Amerika yang meneliti biota laut. Di tempat ini mereka bisa tinggal berminggu-minggu. Pulau ini ditumbuhi pepohonan yang rindang, asri dan sejuk, serta pasir putih yang halus dan lembut.

''Bagi yang ingin menginap di pulau ini, ada sekitar 200 penginapan atau Homestay sederhana berbentuk rumah panggung kecil terbuat dari kayu, yang dibangun masyarakat Kaledupa. Sewanya Rp 40 ribu semalam per orang. Bagi pengunjung yang nginap di pulau ini, pagi hari akan menyaksikan Matahari terbit (sunrine) di ufuk timur,'' paparnya.

Berkunjung ke pulau ini, dapat menggunakan speedboat reguler atau carteran dari Wanci-Kaledupa, dengan jarak tempuh satu jam lebih. Sewanya Ro 50 ribu perorang. Selanjutnya dari Kaledupa ke Hoga, kita naik perahu mesin atau katinting carteran milik masyarakat yang disewakan Rp 20 ribu. Sewa bisa lebih murah, yakni Rp 5000 jika ada penumpang lain.

Selain itu, terdapat pulau Onemobaa. Di pulau ini terdapat sejumlah spot penyelaman yang sangat menarik. Salah satunya, adalah marimabuk. ''Sesuai dengan namanya, anda akan dibuat mabuk dengan keindahan biota-biota laut yang tidak ada duanya di dunia itu,'' jelasnya.

Obyek wisata ini sangat ekslusif karena dikelola secara profesional oleh Mr Lorenzt Maider, salah seorang pengusaha muda asal Swiss. Di tempat ini, Lorenzt mendirikan Dive Resort dan Bungalow sebagai tempat penginapan yang ekslusif dengan tarif yang cukup mahal.

Untuk berkunjung ke kawasan ini pun tidak mudah, harus mendaftar di agen perjalanan di Bali dan beberapa negara Eropa atau melalui internet. Itu pun harus menunggu antrean. Sebuah bandara milik Lorenzt yang diberi nama Maranggo juga dibangun disini.

Bagi yang inginkan biaya murah, bisa melakukan perjalanan sendiri atau secara berkelompok melalui Pemkab Wakatobi. Dari Wangi-Wangi-Tomia, naik Speedboat yang disewakan dengan tarif Rp 70 ribu dan waktu tempuh 2 jam perjalanan.*

http://radarbuton.com

Membangun Wakatobi dari Laut


Oleh ESTER LINCE NAPITUPULU

”Surga bawah laut yang sebenarnya ada di Wakatobi. Dari tiga pusat penyelaman kelas dunia, Wakatobi memiliki jenis karang laut terbanyak,” kata Hugua, Bupati Wakatobi, dalam berbagai kesempatan saat memaparkan keunggulan salah satu kabupaten di Sulawesi Tenggara ini.

Keanekaragaman hayati bawah laut di Wakatobi diklaim jauh lebih tinggi dibandingkan Karibia dan Mesir yang jadi pusat penyelaman dunia. Sekitar 90 persen dari 850 jenis karang dunia, yakni 750 jenis, ada di Wakatobi.

Perairan Karibia, yang kondang dengan wisata lautnya, ternyata belum apa-apa jika dibandingkan dengan Wakatobi. Hanya ada 50 jenis karang di Karibia. Sementara di Laut Merah, Mesir, yang dikenal sebagai gudang terumbu karang cuma memiliki 300 jenis.

Berbekal data itulah Pemerintah Kabupaten Wakatobi memfokuskan pembangunan wilayahnya guna terwujudnya surga nyata bawah laut di jantung segitiga karang dunia. Sektor andalan yang giat dikembangkan tak jauh dari potensi bahari yang ada, yakni perikanan, kelautan, dan pariwisata.

Menurut Hugua, Wakatobi sebenarnya destinasi yang cukup populer di mata wisatawan mancanegara dari Amerika Serikat dan Eropa, terutama mereka yang suka menyelam. Apalagi selama belasan tahun terakhir keindahan bawah laut Kepulauan Wakatobi—yang merupakan singkatan dari nama empat pulau utama di sana: Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko—sudah jadi ”jualan” utama PT Wakatobi Dive Resorts yang dimodali pengusaha asal Swiss.

Hanya saja, untuk bisa tinggal di resor dengan segala fasilitas penyelamannya, wisatawan mesti sabar untuk masuk daftar tunggu hingga setahun ke depan. Untuk paket 10 hari biayanya sekitar 3.000 dollar AS, belum termasuk tiket pesawat dari Bali ke Pulau Tomia, untuk kemudian menuju Pulau Onemobaa, lokasi resor yang punya titik penyelaman berkelas internasional tersebut.

Pundi-pundi dollar mengalir deras ke sektor pariwisata di daerah ini lewat resor tersebut. Tetapi, tetesan dollar itu belum dirasakan punya dampak signifikan bagi peningkatan pendapatan asli daerah. ”Potensi alam Wakatobi harus bisa dimanfaatkan dengan baik untuk kesejahteraan masyarakat juga,” kata Hugua.

Mulai membangun

Langkah terobosan untuk membuka mata bangsa ini dan dunia internasional akan keberadaan surga bawah laut Wakatobi adalah dengan membangun Bandar Udara Matahora di Pulau Wangi-Wangi, tak jauh dari pusat ibu kota Wakatobi di Wanci.

Kehadiran bandar udara yang baru beberapa waktu lalu diresmikan penggunaannya itu setidaknya membuat Wakatobi tak terlalu bergantung pada penerbangan melalui lapangan terbang Maranggo di Pulau Tomia, yang sesungguhnya milik Wakatobi Dive Resorts. Kehadiran Bandara Matahora sekaligus meretas rute laut, yang biasanya ditempuh wisatawan pada umumnya ke Wakatobi.

Pada saatnya nanti, rute penerbangan lewat Bandara Matahora difokuskan dari Bali, Manado, dan Raja Ampat. Rute ini dipilih karena di tiga titik penerbangan itu sudah lebih dulu dikenal keindahan bawah lautnya oleh wisatawan asing dan lokal.

Dengan adanya bandara di pusat ibu kota kabupaten, Pulau Wangi-Wangi diharapkan bisa jadi pusat wisata baru yang tumbuh. Wisatawan umum yang lebih luas juga bisa menikmati pasir putih dan birunya laut, serta keindahan karang di pusat ibu kota tersebut.

Keunikan lain ada di perkampungan suku Bajo. Kanal-kanal yang mengitari perkampungan suku Bajo dilintasi perahu-perahu kayu yang jadi sarana transportasi untuk berbagai tujuan. Pemandangan orang-orang mengayuh dayung kayu di kanal-kanal yang cukup lebar itu seakan membawa angan berperahu di Venesia.

Dari Wangi-Wangi, pilihan wisata yang ditawarkan adalah Pulau Hoga di Kecamatan Kaledupa. Setidaknya perlu waktu kurang dari satu jam dengan kapal motor cepat untuk tiba di lokasi nan indah itu.

Suasana sunyi menyergap kawasan Pulau Hoga yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Wakatobi. Pemerintah Kabupaten Wakatobi memang ingin membiarkannya tetap sunyi dengan tidak mengizinkan pulau ini dihuni secara permanen. Rumah-rumah kayu tersedia hanya sebagai penginapan, yang umumnya disinggahi banyak peneliti dan pelajar asing.

Veda Santiaji, Project Leader Joint Program The Nature Conservancy-WWF untuk Taman Nasional Wakatobi, mengatakan bahwa sumber daya alam di Wakatobi sangat memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai laboratorium alam yang luar biasa. WWF mengidentifikasi delapan sumber daya alam penting di Taman Nasional Wakatobi.

Sumber daya alam itu meliputi terumbu karang, mangrove, lamun atau padang rumput laut (sea grass), daerah pemijahan ikan, mamalia laut, burung-burung migrasi, peneluran penyu, dan ikan-ikan pesisir. ”Tetapi, yang penting, Pemerintah Kabupaten Wakatobi harus tegas soal zonasi wilayah yang sudah disepakati,” kata Veda.

Sebagai kawasan taman nasional yang ditetapkan dengan SK Menhut No 393/Kpts-VI/1996 tanggal 30 Juli 1996, tentu Pemerintah Kabupaten Wakatobi mesti bisa membangun daerahnya tanpa mengusik taman nasional. Kekayaan laut mesti bisa ”dijual” untuk ekowisata, tanpa menafikan masyarakat kecil.

Wisata bahari

Aktivitas wisatawan ke masa mendatang diprediksikan berorientasi ke laut: wisata bahari. Hal itu disebabkan objek wisata di darat identik dengan kehancuran. Indonesia memiliki ekosistem dan alam laut yang tak kalah menarik dan memiliki daya jual yang tinggi jika dikelola secara profesional. Karena itu, pengembangan wisata bahari di pulau-pulau kecil harus berbasis masyarakat.

Tetapi, sebagian pulau-pulau dengan ekosistem laut dan daratan yang indah, unik, dan menarik sudah digarap bahkan dijual ke pihak asing. Masyarakat pun ”gigit jari”, bahkan aksesnya menangkap ikan semakin terbatas.

Tak aneh bila kemudian, di banyak tempat, aktivitas pengeboman ikan oleh nelayan semakin sering terjadi sehingga berdampak pada kerusakan terumbu karang. Di Wakatobi, perilaku semacam itu sudah terjadi.

Persoalan lain yang mesti diatasi adalah mengamankan taman nasional yang kaya keanekaragaman hayati dan bernilai ekonomi sangat tinggi. Pencurian karang laut dan penjarahan ikan bisa jadi ancaman serius jika armada laut untuk pengamanan wilayah perairan Wakatobi tak memadai.

Laode Hajifu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Wakatobi, mengatakan bahwa jenis ikan napoleon (Cheilunus undulatus) merupakan sasaran pencurian di wilayah Taman Nasional Wakatobi. Ikan ini merupakan salah satu ikan yang sangat dilindungi dan dilarang perdagangannya saat ini oleh International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN).

”Harganya yang sangat mahal tentu cukup menggiurkan. Untuk memelihara Taman Nasional Wakatobi ini perlu melibatkan semua pihak, termasuk masyarakat,” kata Laode.

Riza Damanik (Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan perikanan) dalam diskusi panel Pariwisata Bahari yang digelar Kompas bekerja sama dengan Departemen Pariwisata dan Kebudayaan mengingatkan pengembangan potensi bahari meski juga berpihak pada nasib nelayan. Seperti di Wakatobi, disebutkan nelayan tidak bisa lagi secara adat menangkap ikan mengelilingi kawasan Wakatobi.

”Karena wilayah yang dibolehkan menangkap ikan itu-itu saja, hasil tangkapan ikan stagnan, tidak menggembirakan. Lalu, pilihan masyarakat adalah mengebom ikan,” ujar Damanik.

La Ode Ali, guru SD yang peduli pada budaya, mengatakan bahwa pengembangan pariwisata Wakatobi jangan mengabaikan kekayaan seni budaya yang dimiliki masyarakat. Geliat pemeliharaan tradisi warisan nenek moyang mesti bisa sejalan dengan tumbuhnya pariwisata Wakatobi yang perlahan-lahan mulai ditingkatkan.

”Bukan cuma untuk melestarikan budaya, tetapi generasi muda bisa punya bekal untuk hidup dengan memanfaatkan seni budaya warisan leluhur, di tengah maraknya perkembangan pariwisata Wakatobi nantinya,” ujar La Ode Ali.

Yang penting, geliat wisata bahari yang tumbuh itu tidak memarjinalkan masyarakat, terutama wong cilik. Tetesan madu dari surga bawah laut Wakatobi seharusnya dikembalikan pada tujuan untuk memajukan pulau dan masyarakat secara bersama-sama. (ELN)

http://koran.kompas.com/read/xml/2009/06/05/03564837

Konggres CTI di Wakatobi dihadiri tiga negara


WANGIWANGI- Meskipun pelaksanaan Congres Coral Triangle Inisiative (CTI) masih sekitar empat bulan lebih, namun upayah Pemkab Wakatobi terus melakukan pembenahan infrasruktur yang kurang indah dipandang mata. Karena sesuai rencana acara tersebut akan dihadiri tiga negara, yakni Eropa, Amerika, dan kawasan Asia.

”Pertemuan CTI ini akan dihadiri tiga negara peninjau, yaitu Eropa, Amerika, dan kawasan Asia,” ungkap Ketua Bappeda Kabupaten Wakatobi, Ir Manan Msc mewakili bupati, usai acara fasilitasi dan pemanfaatan kelembagaan kawasan konservasi Kabupaten Wakatobi, yang di lakukana Dinas Perikanan Dan Kelautan Provinsi Sulawesi Tenggara di Hotel Wakatobi Kecamatan Wangiwangi, Senin (13/7).

Kegiatan tersebut, tindak lanjut petemuan CTI Pertama di Philipina (Manila), Bupati Wakatobi Ir Hugua ditunjuk sebagai Ketua Delegasi Indonesia yang diselenggarakan (27/6) hingga (3/7) lalu. Salah satu hasil dari pertemuan tersebut Wakatobi ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggara.

Selain itu, ada enam Delegasi Negara yang bakal hadir, yaitu Philipina, Malaysia, Singapura, Timor Leste, Papua New Guine, dan Kepulauan Salomon. Manan menambahkan, terpilihnya Wakatobi sebagai tempat penyelenggaraan CTI Kedua, karena Kepulauan Wakatobi memiliki potensi kekayaan dan keindahan alam bawah laut. ”Sebagai catatan, pertemuan mendatang, intinya membahas bagaimana Indonesia sebagai tuan rumah, bisa melindungi kawasan konservasi biota laut yang berkelanjutan diseluruh wilayah pesisir perairan Indonesia,” terangnya. (p9/mus)

http://radarbuton.com

Wakatobi Siapkan Tambat Labuh Kapal Pesiar


WAKATOBI-Keindahan laut dengan gugusan karang terindah di dunia, menjadikan Kabupaten Wakatobi, sebagai daerah persinggahan 150 kapal layar ( Yacht ). Konsekuensi logis dari pengakuan pemerintah pusat atas keindahan dan keunikan bawah laut (undewater) dan budaya Wakatobi, membuat daerah yang dipimpin, Hugua, semakin dikenal di manca negara.

Keunikan dan daya tarik budaya serta alam tersebut, acap kali diperkenalkan Hugua, pada setiap kunjungannya di berbagai daerah, bahkan di luar negeri. Hal itu, dikatakan Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Drs H Hasirun Ady Msi, saat ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

Menurutnya, secara umum Pemda Wakatobi, telah siap menyambut kunjungan 150 buah kapal layar. Untuk memenuhi persyaratan teknik, khususnya yang berkaitan dengan tambat labuh kapal mewah tersebut, Pemda telah menyiapkan pelabuhan. Bahkan telah ditinjau selama tiga hari oleh panitia pusat, tentang kelayakan pelabuhan dan tempat-tempat destinasi wisata lokal.

“Ada beberapa persyaratan teknik yang disarankan panitia pusat, misalnya pengadaan mooring buoy. Pemda menyanggupi untuk mengadakannya. Dan itu sudah mulai dikerjakan Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika,” papar Hasirun.

Dijelaskan, kunjungan kapal pesiar ( yacht ) di Wakatobi ini, akan dimanfaatkan secara maksimal, sebagai moment yang paling strategis untuk daerah Wakatobi. Jika kapal tersebut menjangkau Wakatobi, maka hampir dipastikan sekitar 500 orang awak kapal mewah itu, akan berada di Kota Wangiwangi.

“Untuk menciptakan daya tarik dan kesan yang baik dan mendalam di hati para traveler ini, Pemda Wakatobi melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata telah mengagendakan kegiatan atrakesi budaya, lomba dayung tradional, tour dive, festival makanan tradisional dan handycraft expo,” tutur mantan Ketua Inkado Ranting HIPPMIB Makassar ini.

Secara naional, Sail Indonesia – Bunken 2009 merupakan rangkaian, kegiatan WOC dan CTI Summit di Manado. Dan Sulawesi Utara (Sulut) merupakan icon destinasi wisata bahari dunia yang berpusat di perairan laut Indonesia. Sekaligus event ini dimaksudkan menyemarakan Visit Indonesia Year 2009 ( Tahun Kunjungan Wisata Indonesia) dalam tema kelautan.

“Nah, di Wakatobi, melihat event internasional ini, maka memperkokoh daerah ini menjadi daerah kunjungan wisata. Dan dalam moment ini, semakin memperekenalkan existensi daerah secara langsung kepada turis. Bukankah, Ini media promosi yang efektif dan murah. Ketika mereka senang dan gembira dengan pelayanan kita, maka mereka akan bercerita kepada masyarakat dunia,” paparnya.

Diakui, pengembangan wisata bahari memiliki arti yang sangat penting dalam mendorong peningkatan sumber pendapatan asli daerah (PAD). “Kita di Wakatobi telah lebih awal menuangkan dalam dokumen perencanaan pembangunan sebagai perwujudan, pencitraan visi daerah berbasis kelautan dan pariwisata,” terang Hasirun.

Selain itu, mantan instruktur HMI Cabang Makassar di era 80-an ini, menambahkan ada 11 kabupaten dan tujuh kota menjadi tujuan Yacht Rally yaitu; Jepara, Belting, Banggai, Buleleng, Ende, Nagekeo, Manggarai Barat, Kota Waringin Barat, Maluku Tenggara, Maluku Tengah dan Wakatobi.

Dan ke tujuh kota, yakni Mataram, Tarakan, Banjarmasin, Bitung, Ternate, Tual dan Ambon. Yacht Rally 2009 akan dilepas Menteri Perikanan dan Kelautan RI, Fredy Numberi di Darwin Ausralia, 18 Juli lalu. Sebanyak 135 kapal yacht, dan 5 Agustus mendatang dari Kinabalu Malaysia sebanyak 24 kapal yacht.

Untuk menginplementasikan program tersebut, Hugua dan Drs Hasirun Ady Msi, diundang mengikuti technical meeting di Darwin Australia, 14-15 Juli lalu. “Bupati mempresentasekan dan mepromosikan keunikan bawah laut dan keanekaragaman budaya Wakatobi. Khususnya informasi pelaksanaan lomba foto bawah laut internasional ke-2 ( Under Water Photo Graphy Internasional Competition ).

Lanjut mantan wartawan Harian Fajar di era 80-an itu, mengutip apa yang telah diungkapkan Aji Sularso Dirjen P2KP bidang pengawasan Dirjen kelautan RI, yakni menantang Wakatobi. “Apabila mampu memberikan good safety (Pengamanan yang Prima) kepada awak kapal ini, maka dimasa mendatang, juga akan mendatangkan banyak kapal yang harga diatas senilai Boing 737.

Karena itu dengan masuknya 157 kapal ini, merupakan Test Sail, apakah daerah wakatobi dapat memberi keamanan kepada kapal-kapal mewah itu,” ungkap Hasirun, mengutip pernyataan Aji Sularso.(gin/ish) Sekedar diketahui, kapal-kapal tersebut, rata-rata harganya diatas Rp 5 miliar. Diantara kapal tersebut ada sebuah kapal bernama Star Cruise yang harganya sama dengan harga Pesawat Boing 737, dan ini dikategorikan salah satu kapal yang termahal di dunia.

Sekedar diketahui, kapal-kapal tersebut, rata-rata harganya diatas Rp 5 miliar. Diantara kapal tersebut, ada sebuah kapal bernama Star Cruise yang harganya sama dengan harga Pesawat Boing 737, dan ini dikategorikan salah satu kapal yang termahal di dunia.(gin/ish/mus)

Sumber : http://www.radarbuton.com